Rabu, 03 Februari 2021

Info Simpatika Genap 2020_2021

 #InfoSimpatikaGenap2020_2021

Sebagaimana telah dimulainya kalender akademik Semester Genap TP 2020/2021, maka tahapan pendataan Simpatika Periode semester genap sudah dimulai.


Saat ini menu keaktifan PTK sudah aktif, silakan login di akun PTK masing-masing untuk mengaktifkan portofolio Anda sebelum mencetak Kartu Digital PTK Anda agar terdaftar aktif di Simpatika untuk Periode Semester Genap 2020-2021.

Sebelum menyelesaikan sampai ketahap Verval S25 (Keaktifan Kolektif), cetak SKMT & SKBK serta SKAPT berikut beberapa hal yg harus dilakukan oleh Guru dan Kepala Madrasah dalam melakukan pemutakhiran (update) data.


Update data di sini meliputi yang harus dikerjakan oleh masing-masing PTK, seperti:

Keaktifan Diri dan Cetak Kartu GTK (wajib)

Update Biodata PTK (jika ada)

Mutasi Madrasah Induk PTK (jika ada)

Alih Fungsi PTK dari Tenaga Pendidik menjadi Pendidik atau sebaliknya (jika ada)

Pengajuan Sekolah Non Induk (jika ada)

Registrasi PTK Baru (jika ada)

Update data yang dilakukan oleh Kepala Madrasah atau Operator Madrasah, meliputi:

Mengisi Jadwal Kelas Mingguan

Mengangkat Wali Kelas

Mengangkat Pejabat Madrasah atau tugas tambahan (seperti Wakil Kepala Madrasah, Kepala Laboratorium, Kepala Perpustakaan, dll, jika diperlukan)

Update data siswa dan rombel (jika ada perubahan data)

Melakukan Persetujuan Registrasi PTK Baru (jika ada)

Melakukan Persetujuan Pengajuan Sekolah Non Induk (jika ada)

Melakukan Non Aktif PTK (jika ada)


Sabtu, 30 Januari 2021

DZIKIR SHALAWAT SETIAP HARI JUM'AT SETELAH SHALAT ASHAR

DZIKIR SHALAWAT SETIAP HARI JUM'AT SETELAH SHALAT ASHAR

Mlll

Oleh : Al-Habib Umar bin Hafidz


Membaca :


اللهم صل على سيدنا محمد عبدك و رسولك النبي الأمي و على آله و صحبه و سلم تسليما (80x) / (100x)

Kitab Khulashah Al-Madad An-Nabawi fii Awraadi Aali Ba'Alwi


Dari Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ، ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ 

“Orang yang bakhil adalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. Ahmad)

_

SEMOGA BERMANFAAT

Sabtu, 23 Januari 2021

ANAK-ANAK YANG MATI RASA


 ANAK-ANAK YANG MATI RASA


Oleh : M.Fauzil Adhim

Kelak akan tiba masanya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, orangtua berpayah-payah mendidik anak, tetapi anaknya memperlakukan emaknya seperti tuan memperlakukan budaknya. Dan aku takut peristiwa itu akan terjadi di masa ini, masa ketika anak-anak tak mengenal pekerjaan rumah-tangga, dan pesantren maupun sekolah-sekolah berasrama lainnya tak lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. 

Anak-anak itu belajar, tetapi hanya mengisi otaknya dari pengetahuan yang dapat diperoleh dari text book dan google. Sementara tangannya bersih tak pernah mencuci maupun melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik lainnya, sehingga empati itu mati sebelum berkembang. Tak tergerak hatinya bahkan di saat melihat emaknya kesulitan bernafas seumpama orang hampir mati disebabkan ketuaan atau sakitnya kambuh, tetapi anak tak bergeming membantunya. Apalagi berupaya melakukan yang lebih dari itu.

Aku termangu mengingat nasehat Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda-tanda hari kiamat, salah satunya dari hadis panjang yang kali ini kita nukil ringkasnya:
.
سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْمَرْأَةُ رَبَّتَهَا
.
_Aku akan memberitahukan kepadamu tanda-tandanya; jika seorang (sahaya) wanita melahirkan tuannya.” (Muttafaqun ‘Alaih)_
.
.
Ibunya bukanlah seorang budak. Bukan. Ibunya orang merdeka. Tetapi anak-anak itu tak tersentuh hatinya untuk cepat tanggap membantu ibunya. Padahal membantu saat diminta adalah takaran minimal bakti kepada orangtua. Takaran di atas itu, tanpa diminta pun ia sudah tergerak membantu. Dan di atasnya lagi masih bertingkat-tingkat kebaikan maupun kepekaan seorang anak tentang kebaikan apa yang sepatutnya ia perbuat terhadap kedua orangtuanya.

Ada yang perlu kita renungi. Ada airmata yang perlu mengalir, menadahkan tangan mendo’akan anak-anak dan keturunan kita, menangisi dosa-dosa, berusaha memperbaiki diri dan tetap tidak meninggalkan nasehat bagi anak kita karena ini adalah haknya. Nasehat. Ia adalah kewajiban kita untuk memberikannya meskipun mereka tak memintanya. Kitalah yang harus tahu kapan saat tepat memberikan nasehat sebab semakin memerlukan nasehat, justru kerapkali semakin merasa tak memerlukan nasehat.

Hari ini, betapa banyak anak yang di sekolah berasrama tak diajari mengurusi kehidupan pribadinya karena makanan siap saji setiap waktu makan, hanya perlu berbaris untuk mengambilnya. Sedangkan pakaian pun tak perlu ia menyempatkan waktu mengatur jadwal agar bersih saat mau digunakan, karena sudah ada laundry, sementara tugas sekolah tetap tertunaikan. Tidak terbengkalai. Maka di saat mereka pulang, kita perlu melatih tangan dan juga hatinya agar tanggap. Bukan menyerahkan begitu saja kepada pembantu. Tampaknya ini hanya urusan pekerjaan rumah-tangga yang sepele, tetapi di dalamnya ada kecakapan mengelola diri, mengatur waktu dan lebih penting lagi adalah empati.

Apakah tidak boleh kita menggembirakan mereka dengan sajian istimewa saat mereka pulang dari pesantren? Boleh. Sangat boleh. Tetapi hendaklah kita tidak merampas kesempatan mereka untuk belajar mengenal pekerjaan rumah-tangga, menghidupkan empati dan mengasah kepekaannya membantu orangtua. Liburan adalah saat tepat belajar kehidupan. Bukan saat untuk libur menjadi orang baik sehingga seluruh kebaikan yang telah biasa mereka jalani di sekolah, sirna saat liburan tiba. Mereka seperti raja untuk sementara, sebelum kembali ke penjara suci.

Diam-diam saya teringat, konon di sebuah sekolah bernama Eton College, semacam Muallimin di Inggris tempat anaknya raja maupun anak orang sangat kaya bersekolah, para siswa diharuskan mencuci dan menyeterika bajunya sendiri. Bukan bayar laundry. Ini bukan karena orangtua mereka fakir miskin. Bukan. Tetapi karena dalam urusan sederhana itu ada kebaikan yang sangat besar bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang, termasuk dalam hal kepemimpinan. Mereka menjadi lebih peka tentang apa yang seharusnya dilakukan saat menjadi pemimpin perusahaan, termasuk dalam mengelola waktu.

Apa yang dilakukan di Eton College sebenarnya bukan barang baru, tetapi saya merasa perlu menghadirkan kisah ini selintas hanya untuk menggambarkan betapa anak-anak memerlukan latihan untuk mengasah kepekaannya, menghidupkan empatinya dan meringankan langkahnya membantu orangtua. Mereka sangat perlu memiliki semua itu karena dua alasan. Pertama, ketiganya (kepekaan, empati dan kemauan untuk meringankan langkah) sangat mereka perlukan dalam menjalani kehidupan bersama orang lain, baik ketika berumah-tangga maupun berdakwah dan mengurusi ummat. Artinya, minimal semua itu mereka perlukan untuk meraih kehidupan rumah-tangga yang baik, tidak terkecuali dalam mendidik anak. Kedua, ketiganya mereka perlukan untuk dapat berbuat kebajikan bagi kedua orangtua (birrul walidain) dengan sebaik-baiknya. Dan birrul walidain merupakan salah satu kunci kebaikan yang dengan itu anak dapat berharap meraih ridha dan surga-Nya Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi, urusan terpentingnya bukan karena kita kewalahan lalu perlu bantuan mereka. Bukan. Bukan pula karena kita repot sehingga memerlukan kesediaan mereka untuk meringankan tugas-tugas kita. Tetapi hal terpenting dari melibatkan anak membantu pekerjaan di rumah dan tanggap terhadap orangtua justru untuk keselamatan dan kebaikan anak kita di masa-masa yang akan datang. Kejamlah orangtua yang tak melatih anaknya untuk berbakti kepadanya hanya karena merasa orangtua tak perlu menuntut anak membantunya. Ingatlah, kita latih, dorong dan suruh mereka agar cepat tanggap dan ringan membantu bukanlah terutama untuk meringankan beban orangtua, tetapi justru agar anak-anak kita memperoleh kemuliaan dan kebaikan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan birrul walidain. Sekurang-kurangnya tidak menyebabkan mereka terjatuh pada perbuatan mendurhakai orangtua. Dan ini merupakan serendah-rendah ukuran.

Ada yang perlu kita khawatiri jika lalai menyiapkan mereka. Pertama, anak-anak merasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua, termasuk membantu pekerjaan di rumah, bukan sebagai tugasnya. Mereka tak membangkang, tetapi lalai terhadap apa yang sepatutnya mereka kerjakan. Ini merupakan akibat paling ringan. Kedua, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang durhaka kepada orangtua. Dan karena kedurhakaan itu bersebab kelalaian orangtua dalam mendidik, maka di Yaumil Qiyamah mereka menjatuhkan orangtua di mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla sehingga justru orang yang merasakan azab akhirat. Ketiga, sebagaimana disebut dalam hadis di atas, anak-anak berkembang menjadi pribadi yang memperbudak orangtua, bahkan setelah mereka mempunyai anak. Na’udzubiLlahi min dzaalik.

Ada yang perlu kita renungkan tentang bagaimana kita mendidik anak-anak kita. Saatnya kita kembali kepada tuntunan agama ini, bertaqwa kepada-Nya dalam urusan mendidik anak dan berusaha menggali tentang apa saja yang harus kita bekalkan kepada mereka.

.
 
#Fatherhood Community
#Home Based Education
#Ayah Pendidik Peradaban

Selasa, 15 Desember 2020

The flower of patience"

 "The flower of patience"



The flower of patience, opens every 7 years and lives only 7 days


Terjemahan

Bunga Kesabaran

Mekar setiap 7 tahun, dan hidup hanya 7 hari





Senin, 07 Desember 2020

LETNAN UDARA SJAMSUDDIN NOOR


 " LETNAN UDARA SJAMSUDDIN NOOR "


Letnan Udara Sjamsudin Noor, Perjuangannya dan Nama Bandara

Muhammad Sjamsudin Noor nama lengkapnya

Dia dijuluki pelopor Airways Indonesia

Anak Desa yang Lahir di Alabio, Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel

Gugur di usia muda sebagai pejuang TNI Angkatan Udara


Tidak banyak anak muda yang memilih menjadi penerbang pesawat tempur sebagai profesi di jaman masih sekarat tahun 1940-an. Dari yang sedikit, nama Muhammad Sjamsudin Noor terpatri dengan indah. Lahir di Alabio, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel tanggal 5 November 1924, Muhammad Sjamsudin Noor besar di lingkungan keluarga yang taat beragama.


Ayahnya H.Abdul Gaffar Noor dikenal sebagai salah satu ulama di Alabio pada tahuan 1900-an. Ibunya Hj. Putri Ratna Willis, juga aktif dikegiatan keagamaan. Ketokohan keduanya, mengantarkan mereka sebagai sosok yang aktif di pergerakan dan organisasi perjuangan. Tahun 1940-an di masa transisi terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), H. Abdul Gaffar Noor, dipercaya sebagai Kepala Federasi Kalimantan Tenggara.


“Ayah beliau (Sjamsudin Noor) tokoh ulama di Kalsel yang juga pernah menjabat Kepala Federasi Kalimantan,” jelas Letkol Pnb, M. Mukson, Danlanud Syamsudin Noor, Banjarmasin.


Jabatan publik yang di emban sang ayah, membuat Sjamsudin Noor menghabiskan waktu jauh dari kampung halamannya yang dikenal sebagai sentra perternakan itik terbesar. Di usia 8 tahun, jenjang pendidikan dimulai di HIS Batavia Jakarta. Setelah lulus tahun 1939, melanjutkan sekolah di MULO Bogor, Jawa Barat.


Usai mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sejak tahun 1942 hingga 1945, Sjamsudin Noor melanjutkan pendidikannya di AMS Jogjakarta. Kondisi Negara yang masih dalam tekanan penjajah, membuatnya terpanggil dengan masuk Akademi Militer di Jogjakarta. Setahun di Akademi Militer, dia memperdalam ilmunya dengan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang.


Prestasi yang bagus, mengantarkan Sjamsudin Noor terpilih mengikuti program Pendidikan dan Latihan Penerbang di India dan Burma. Dari sinilah ilmu profesional sebagai penerbang pesawat tempur dan pesawat angkut dicapai. Tiga tahun menimba ilmu, Sjamsudin Noor langsung dipercaya menjadi pilot pesawat penerbangan Indonesia Airways.


Dedikasi dan loyalitasnya sebagai penerbang, membuat TNI Angkatan Udara memanggilnya untuk memperkuat barisan penerbang pesawat tempur. Tahun 1950, sepulang dari Burma, Sjamsudin Noor yang berpangkat Letnan Udara Satu, dipercaya menerbangkan pesawat tempur Dakota 446 milik TNI Angkatan Udara. Sejak itu, secara resmi Sjamsudin Noor dipercaya memiloti pesawat tempur untuk membela Negara.


Minggu, tanggal 26 November 1950, sekitar pukul 17.00 WITA. Sjamsudin Noor menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.


Angkatan Udara Indonesia berduka. Sjamsudin Noor wafat di usia muda. Di usia yang baru 26 tahun anak banua ini, dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways. Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa.


Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970 melalui peran DPRD Kalsel, Pemerintah Daerah dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor. “Atas peran dan jasa-jasanya terhadap negara, makanya bandara ini dinamakan Lanud Syamsudin Noor,” tegas Letkol Pnb M.Mukson, Danlanud Syamsudin N0or Banjarmasin.


Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsudin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsudin Noor menggantikan Lanud Ulin pemberian nama dari Belanda dan Jepang.#copas


Ala hadiniyah wa kulli niatin sholihah bisirril fatihah...  

(Sjamsuddin noor Bin H. Abdul Gaffar Noor)

Senin, 26 Oktober 2020

Lirik lagu Qomarun - Mostafa Atef

Lirik lagu shalawat berjudul Qomarun ini dipopulerkan oleh Mostafa Atef yang juga dicover oleh majelis shalawat yang tersebar di Indonesia.


Isinya berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Berikut teks lirik Qomarun selengkapnya, dalam bahasa Arab, Latin maupun terjemahnya:



قمرٌ سِيدْنَا النَّبِى


وَأَجْمَلُ مِنْكَ لَمْ تَرَقَطُّ عَيْن

Wa ajmaluminka lam taro qottu 'aiin


وَأَطْيَبُ مِنْكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَاءُ

Wa atyabuminka lam talidinnisaaa u


خُلِقْتَ مُبَرَّءًا مِنْ كُلِّ عَيْبٍ

Khuliqta mubarroa minkulli 'aiiibin


كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَاءُ

ka annaka qod khuliqta kama tasyaaa...u


قَمَرٌ قَمَر قمرٌ سِيدْنَا النَّبِى قَمَرٌ

وَجَمِيل وجميل وجميل

سِيدْنَا النَّبِى وَجَمِيل


(وَكَفُّ الْمـُـصْطَفَى كَالْوَرْدِ نَادِي( الله, الله

(وَعِطْرُهَ يَبْقَى اِذَا مَسَّتْ أَيَادِي( الله, الله


3x وَعَمَّ نَوَالُهاَ كُلَّ الْعِبَادِي 

حَبِيبُ الِله يَا خَيْرَ الْبَرَى يا


قَمَرٌ قَمَر قمرٌ سِيدْنَا النَّبِى قَمَرٌ

وَجَمِيل وجميل وجميل

سِيدْنَا النَّبِى وَجَمِيل


(وَلَا ظِلُّ لَّهُ بَلْ كَانَ نُورَا ( الله, الله

(تَنَالَ الشَّمْسَ مِنْهُ وَالْبُدُورَ (الله, الله


3x وَلَمْ يَكُنِ الْهُدَى لَوْلَا ظُهُورَه

وَكُلُّ الْكَوْنِ أَنَارُ بِنُورِ طَه


قَمَرٌ قَمَر قمرٌ سِيدْنَا النَّبِى قَمَرٌ

وَجَمِيل وجميل وجميل

سِيدْنَا النَّبِى وَجَمِيل


Qomarun Latin Lengkap Berurutan

Qamarun Qamarun Qamarun Sindan Nabi Qamarun

Wajamil Wajamil Wajamil Sidnan Nabi Wajamil


Qamarun Qamarun Qamarun Sindan Nabi Qamarun

Wajamil Wajamil Wajamil Sidnan Nabi Wajamil

JEDA BACA:

Download Kumpulan Kitab Kuning Makna Pegon Jawa, Sunda dan Melayu

Download Gratis 408 Buku PDF Bertema Fiqih Lengkap

Download 250 Lebih Kitab Tafsir PDF Lengkap

Jual Kaos Gus Baha

POS TERKAITMgid


Turunkan 18 Kg dengan konsumsi ini sebelum tidur selama seminggu!


Diabetes hilang selamanya & pankreas kembali sehat! 100% alami


Tak perlu laser jika penglihatan mulai kabur, cukup gunakan ini!

Wkafful Mustafa Kalwardi Nadi

Wa Itruhahyabqa iza Massat ayadi


Wkafful Mustafa Kalwardi Nadi

Wa Itruhahyabqa iza Massat ayadi


Waamma nawaluha Kullal Ibadi

Waamma nawaluha Kullal Ibadi

Waamma nawaluha Kullal Ibadi

Waamma nawaluha Kullal Ibadi


Habibullahiya khoirol Baro yaaaaa


Qamarun Qamarun Qamarun Sindan Nabi Qamarun

Wajamil Wajamil Wajamil Sidnan Nabi Wajamil


Walaza'allullahu Bal Kananura

Tanalash Syamsaminhu wal budura

Walazillullahu Bal Kananura

Tanalash Syamsaminhu wal budura


Walam yakunil huda laula zuhura

Walam yakunil huda laula zuhura

Wakullulkauni anaruhinuriqohaaa


Qamarun Qamarun Qamarun Sindan Nabi Qamarun

Wajamil Wajamil Wajamil Sidnan Nabi Wajamil


Qamarun Qamarun Qamarun Sindan Nabi Qamarun

Wajamil Wajamil Wajamil Sidnan Nabi Wajamil


Qamarun Qamarun Qamarun Sindan Nabi Qamarun

Wajamil Wajamil Wajamil Sidnan Nabi Wajamil


Arti Lirik Qomarun

Engkau sangat indah yang belum pernah dilihat oleh mata,

Engkaulah seorang suci yang tidak pernah dilahirkan oleh seorang wanita,

Engkau diciptakan terhindar dari keaiban,


Seolah-olah engkau di ciptakan seperti mana yang engkau kehendaki


Qamarun…

Bulan….

Bulan….

Engkau umpana bulan wahai penghulu kami…


Wahai keindahan…

Wahai keindahan…

Engkau sangat indah wahai penghulu kami


Qamarun…

Bulan….

Bulan….

Engkau umpana bulan wahai penghulu kami…


Wahai keindahan…

Wahai keindahan…

Engkau sangat indah wahai penghulu kami


Dan Tangan penghulu kami seperti bunga yang mekar

Dan keharuman nya kekal apabila di sentuh oleh tangan-tangan

Dan Tangan penghulu kami seperti bunga yang mekar

Dan keharuman nya kekal apabila di sentuh oleh tangan-tangan


Dan pemberian nya meliputi bagi setiap umatnya

Dan pemberian nya meliputi bagi setiap umatnya

Dan pemberian nya meliputi bagi setiap umatnya

Kekasih Allah wahai sebaik-baik manusia


Wahai bulan…

Bulan….

Kamu umpana bulan wahai penghulu kami…

Wahai keindahan…

Wahai keindahan…

Engkau sangat indah wahai penghulu kami

Engkau tanpa bayang-bayang karena engkau adalah cahaya,

Engkau umpama matahari dan bulan,

Engkau tanpa bayang-bayang karena engkau adalah cahaya,

Engkau umpama matahari dan bulan,

Tidak akan ada hidayah sekiranya bila baginda tidak ada,

Tidak akan ada hidayah sekiranya bila baginda tidak ada,

Tidak akan ada hidayah sekiranya bila baginda tidak ada,

Dan setiap alam semesta bercahaya dengan sebab baginda

Bulan…

Bulan….

Engkau umpana bulan wahai penghulu kami…

Wahai keindahan…

Wahai keindahan…

Engkau sangat indah wahai penghulu kami…

Demikian semoga bermanfaat dan menambah mahabbah kepada Rasulullah Saw.

Minggu, 04 Oktober 2020

MANAQIB AYAHANDA TUAN GURU KH. MAHFUZ AMIN ( MUASSIS SEKALIGUS PENGASUH PON-PES IBNUL AMIN PAMANGKIH,BARABAI, KALSEL)

MANAQIB AYAHANDA TUAN GURU KH. MAHFUZ AMIN ( MUASSIS SEKALIGUS PENGASUH PON-PES IBNUL AMIN PAMANGKIH,BARABAI, KALSEL)



الحمد لله العلى الأعلى الذى خلق الموت والحياة ليـبلوكم ايكم احسن عملا, وحكم على خلقه بالبعـث والفصل الى دار القضآء لتجزى كل نفس بما تسعى. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له شهادة عبد معترف بأن ليس للإنسان الا ما سعى, واشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله ونبيه المقـتـفى, اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه والتابعين وتابعهم الى يوم الجزاء.


Manaqib / Riwayat hidup Ayahnda KH. Mahfuz Amin dari kumpulan kebaikan dan perjuangan beliau, untuk selanjutnya mudah - mudahan dapat kita teladani kebaikannya, kita jaga apa yang telah ditinggalkannya dan kita teruskan perjuangannya sampai kapan pun. Amin.


 KH. Mahfuz Amin bin Tuan Guru HM. Ramli bin Tuan Guru H. Muhammad Amin adalah putra pertama dari sembilan bersaudara, pasangan Tuan Guru HM. Ramli dan Hj. Sabariah. Beliau dilahirkan di Pamangkih pada malam selasa tanggal 23 rajab 1332 H bertepatan tahun 1914 M di rumah orang tuanya. Beliau diasuh dan dibesarkan di bawah pengawasannya sehingga menjadi orang yang mulia dan berjasa.


 {Pendidikan Beliau} 

Almarhum pertama kali dididik dan dibesarkan di tengah – tengah keluarga yang taat beragama, sebab orang tua beliau yang bernama H. Muhammad Ramli adalah ulama berpengaruh dan dikenal mempunyai ilmu agama yang dalam. Tidak heran kalau di Pamangkih, orang tua dari Tuan Guru HM. Ramli yaitu Tuan Guru HM Amin dikenal dengan sebutan Tuan Guru Besar, sedangkan Tuan Guru HM Ramli dikenal dengan Tuan Guru Tuha, karena di tangan beliulah kata putus dalam berbagai persoalan, baik yang menyangkut bidang agama maupun problem sosial kemasyarakatan lainya. Dalam usia 6 tahun, almarhum sudah selesai belajar Al Qur’an tahap pertama, di bawah pengajaran langsung orang tua beliau. 


Pendidikan formal beliau tempuh setingkat Sekolah Dasar selama tiga tahun di Pamangkih yang kemudian dilanjutkan setingkat selama dua tahun di Desa Banua Kupang. Selain itu beliau tidak pernah belajar di sekolah formal lainnya. Untuk selanjutnya beliau menempuh pendidikan non formal berupa pengajian agama yang diberikan oleh orang tua beliau sendiri di samping mengikuti pengajian-pengajian yang ada di Desa Pamangkih. Selain itu beliau juga belajar dengan beberapa Tuan Guru yang ada di Desa Negara Kab. Hulu Sungai Selatan. 


{Berangkat ke Tanah Suci} 

Pada tahun 1938 M, saat berusia 24 tahun sesudah beliau menikah dengan seorang perempuan yang bernama Saudah, puteri dari tuan guru H.M Arsyad di Desa Kali Baru Kec. Batu Benawa Kab. HST. Pada tahun itulah oleh mertua beliau, Mahfudz Amin beserta isteri diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji seraya memperdalam ilmu pengetahuan agama. Karena mertua beliau menilai bahwa Mahfud Amin mempunyai cita cita yang tinggi dalam li i’lai Kalimatillah, bahkan pada waktu itu Mahfuz Amin dapat menjawab satu pertanyan dari beliau yang sebelumnya pertanyaan itu oleh mertua beliau tidak ditemukan jawabannya. Akan tetapi ketika pertanyaan itu dilontarkan kepada Mahfudz Amin, beliau pun mendapatkan jawaban yang benar benar cukup dan memuaskan. 


Adapun guru - 

guru beliau selama di Makkah adalah 

العالم العلامة الشيخ محمد ياسين بن عيسى الفادانى العالم العلامة الشيخ عبد القادر بن عبد المطلب المندلى العالم العلامة الشيخ ابو بكر بن سليمان جكرتا 

العالم العلامة الشيخ محمد احيد بن ادريس البغورى العالم العلامة الشيخ عبد الخالق فيراك ملزيا 

العالم العلامة الشيخ السيد علوى بن عباس الملكى العالم العلامة الشيخ السيد محمد أمين الكتبى 

العالم العلامة الشيخ حسن محمد المشاط 

العالم العلامة الشيخ مختار امفانن 

العالم العلامة الشيخ عبد الجليل المقدسي 

العالم العلامة الشيخ أنع شعرانى بن محمد عارف البنجرى العالم العلامة الشيخ نوح كلانتان ملزيا 

العالم العلامة الشيخ عبد الرحيم كلانتان ملزيا


 Dan yang lain-lainnya yang tidak disebutkan disini. 


{Kembali ke Kampung Halaman} 

Setelah tiga tahun menimba ilmu pengetahuan di tanah suci, beliau pulang ke tanah air dan tepat pada tanggal 8 Oktober 1941 tiba kembali di kampung kelahirannya. Sejak saat itu beliau mulai mengajar agama sambil terus belajar di samping aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. 


{Membangun Pesantren} 

Setelah hampir 20 tahun berkecimpung di masyarakat, bermacam pengetahuan dan pengalaman telah diperoleh, pahit manisnya kehidupan telah dilalui, namun cita-cita ingin menyebarkan dan meninggikan agama Allah tidak pernah padam. Hingga pada saatnya pada tahun 1958, fajar cita-cita yang diidamkan mulai terbit bersinar di Desa Pamangkih. Lembaran-lembaran kitab kuning yang mulai sirna kembali cerah dengan berdirinya sebuah Pondok Pesantren yang bernama “Ibnul Amin”. Nama ini diambil dari nama kakek beliau yang bernama Tuan Guru H.M Amin. Disamping sebagai tafaulan ( kesan yang baik ) dari makna Al Amin itu sendiri yaitu jujur dan dipercaya, dengan harapan mudah mudahan generasi yang dididik di Ibnul Amin menjadi generasi yang jujur dan dipercaya. 


Ada beberapa hal yang mendorong KH. Mahfuz Amin membangun Pondok Pesantren ini, diantaranya dorongan moral dari orang tua beliau sendiri ( Tuan Guru H.M. Ramli ) di mana kata beliau kepada anak Mahfuz Amin “Ikam di dalam menghadapi pelajaran agama apalagi kuncut pada aku, sama aku haja jangan. Ikam harus bafikir bagaimana caranya agar pelajaran agama lebih maju dari pada yang sudah ada sekarang ini.” 


Yang kedua, wasiat dari guru beliau yaitu KH. Abu Bakar bin Sulaiman Tambun Jakarta pada ketika berkunjung dan bersilaturrahmi ke Desa Pamangkih dan beliau melihat masih banyak lahan yang kosong, maka dengan tegas KH. Abu Bakar bin Sulaiman berkata agar supaya dibangun pondok sekalipun dengan seada-adanya atau sesederhana mungkin.


Yang ketiga, pengalaman beliau ketika belajar di Makkah Al Mukarramah di mana beliau sering menerima masukan-masukan dan cerita tentang pondok pesantren dari Sahabat-sahabat beliau yang berasal dari pulau Jawa dan Sumatera. Dengan didahului musyawarah bersama murid-murid beliau yang ada pada waktu itu sebanyak 17 orang, maka dicapai kata sepakat agar cita-cita yang mulia ini cepat terlaksana , maka disepakatilah dengan masing-masing mengusahakan 5 blek padi yang hasil penjualannya dibelikan bahan-bahan bangunan. Dengan modal tersebut tadi sehingga bisa dibangun dua buah asrama yang sangat sederhana masing-masing berukuran 3,5 m x 15,5 m dengan kapasitas 6 kamar ditambah dengah sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai dapur tempat santri memasak. Inilah bangunan yang pertama kali. Dan Alhamdulillah sebagian bangunan itu sampai sekarang masih dapat kami lestarikan. 


Selanjutnya tersebarlah kabar keberadaan pondok pesantren ini, sehingga para thalabah pun berdatangan yang tentu saja menjadikan “ Ibnul Amin “ harus menambah asrama dan sarana-sarana yang lain sesuai dengan kebutuhan. Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1975 beliau juga membangun pondok pesantren putri untuk mencetak kader-kader muslimah yang shalehah, karena pada saat itu beliau melihat ketertinggalan kaum wanita dalam pendidikan agama, padahal peran mereka tak kalah pentingnya, sebab merekalah guru pertama dalam keluarga yang turut mewarnai kualitas generasi masa depan.


 المرأة عماد الدين اذا صلحت صلحت البلاد و اذا فسدت فسدت البلاد 


{Keuletan beliau} Almarhum adalah sosok pribadi yang tidak pernah menyerah dalam berjuang, baik dalam masa pendidikan maupun dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan pikiran-pikirannya. Kelebihan beliau terletak pada ketekunan dan kerajinan dalam mengulang kaji sendiri (muthalaah) disamping sangat menghargai waktu. 


Walau di tengah kesibukan beliau dalam bekerja, karena tenaga dan waktu beliau hampir semua tercurah pada pembangunan dan memajukan pesantren yang beliau asuh, namun tidak berarti tertutup kesempatan menulis satu dua kitab untuk menunjang pelajaran di pondok beliau. 


Terbukti ada tiga karya tulis beliau, satu yang menjadi pokok bahkan yang pertama kali harus dipelajari santrinya, ialah Kitab Tashrif atau dikenal dengan Tashrifan. Walau tidak dicetak karena untuk membiasakan santri menulis dalam tahapan pertama. Kitab Tashrif ini selalu disalin oleh santri yang baru belajar. 


Karya beliau yang kedua adalah ringkasan Shorof yang berbahasa Arab dengan nama

 مـخـتصر حل المعقود فى نظم المقصود

Dan yang ketiga, untuk memudahkan para santrinya dalam belajar Ilmu Falaq, beliau ringkaskan satu kitab falaq yang besar yang diberi nama


 المحلولة فى مختصر المنهج الحمـيدية 


Beliau menaruh perhatian secara khusus dalam bidang ilmu falaq, baik mempelajari ataupun mengajarkannya. 


Disamping berkiprah dibidang keagamaan beliau juga sangat memperhatikan usaha mencerdaskan anak-anak di desanya. Hal ini terbukti dengan andil beliau yang sangat besar dalam membangun sekolah umum (SR) pada tahun 1951. Keberhasilan almarhum dalam belajar dikarenakan beliau sangat menghormati ilmu yang didapatkan dari gurunya dengan arti penghormatan yang benar dengan mengamalkan ilmu yang diperoleh itu. Beliau berhasil mengembangkan ilmu kepada murid-muridnya yang kini telah tersebar dimana-mana. Kalau dilihat masa belajar beliau memang relatif singkat. Tiga tahun di Mekkah dan beberapa tahun di dalam asuhan orang tuanya, tetapi karena kesungguhan beliau dalam menghormati ilmu sehingga tampaklah keberkatan dan manfaat dari ilmu pengetahun yang dimilikinya. Beliau sangat menghormati guru-gurunya, karena menurut beliau kalau seseorang ingin menjadi terhormat dalam hidupnya dia harus menghormati guru dan mengamalkan ilmunya. Beliau selalu menziarahi guru-guru yang masih hidup minimal setahun sekali dan sesudah meninggal ziarah ke kuburnya. Hal lain yang menonjol dari kepribadian almarhum adalah kasih sayangnya dengan para santri. Beliau menginginkan santrinya rajin dalam belajar hingga berhasil dan pandai dalam menyampaikan ilmunya kepada orang lain. Siang dan malam selalu berada di tengah-tengah para santrinya. Kalau ada yang bermain-main, beliau tegur dengan saran yang lembut diiringi nasehat dan nampak kegembiraan di mukanya ketika melihat santrinya yang sedang belajar. 


Beliau sangat dikenal dikalangan para ulama. Disamping selalu datang berkunjung kepada mereka, tak jarang kesempatan itu digunakan untuk bertukar pikiran, lebih-lebih pada masalah keagamaan. Beliau cukup dekat dengan KH. Hasyim Asy’ari, Jombang serta KH. Abdussomad, mufti kerajaan Pontianak. Beliau mempersilahkan siapa saja pejabat yang mau datang. Kalau mereka ingin memberikan donasi untuk pondok, beliau dengan tegas menerimanya selam tidak mengikat. Walau pun demikian beliau tidak pernah memohon kepada mereka dan tetap menjaga jarak. Prinsipnya adalah selama pergaulan itu tidak mengganggu perjuangan beliau untuk kemajuan pondok. 


Kepada para kadernya beliau berpesan agar selalu berusaha untuk menghidupi pondok bukan justru hidup dipondok. 


Beliau memang sosok pribdi istimewa, istiqamah, disiplin, tawadhu dan disertai semangant ikhlas berkorban, tidak ada keinginan menggapai kemewahan duniawi. Untuk kepentingan agama tidak segan-segan beliau mengorbankan kepentingan sendiri. Bahkan selama hidupnya, beliau tidak pernah memiliki kendaraan pribadi. 


Demikianlah setelah 37 berjuang untuk membangun serta membina Ibnul Amin dan santri-santrinya hari demi hari lembaran hidupnya dihabiskan untuk li i’laaikalimatillaah hingga usia senja. 


{Berpulang kerahmatullah} 


pada saat beliau berusia 80 tahun Keuzuran tampak bertambah, meskipun pengobatan selalu diupayakan. Sampai pada saatnya, hari Ahad, jam 08.45 tanggal 21 Zulhijjah 1415 H. / 21 Mei 1995 beliau menghembuskan nafas terakhir dalam pangkuan anak istri dan murid-murid beliau dalam usia 82 tahun 4 bulan 28 hari. Dikebumikan pada sore harinya dengan diantarkan oleh ribuan kaum muslimin ke tempat peristirahatan terakhir pada jam 3 sore di pemakaman umum Pamangkih bersampingan dengan orang tua beliau KH. Muhammad Ramli dan keluarga. 


Pamangkih berduka, derai tangispun pecah. Para santri seolah tak mampu untuk bicara. Masyarakat terpana karena ditinggal oleh sang panutan yang sangat berjasa untuk selama-lamanya. 


Beliau meninggalkan sesuatu yang sangat berharga, untuk diteruskan, dipelihara dan dijaga oleh generasi berikutnya. 


Terlalu mahal rasanya untuk ditinggalkan, terlalu sayang kenangan itu untuk dilupakan. Semoga Allah menerima segala amal kebaikannya. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Bukti Nabi Khidir Masih Hidup

 Bukti Nabi Khidir Masih Hidup  Nabi Khidir as. adalah nabi Allah yang penuh misteri. Keberadaannya hingga kini juga masih misteri. Bahkan, ...

Translate